Rabu, 19 November 2008

Obsesi yang Tinggi

Oleh Dr. Ali Al Hammadi

Besarnya daya pengaruh dan kepiawaian mengendalikan hidup, bermula dari dalam diri sendiri. Orang yang tidak mempunyai tekad dan obsesi yang besar, takkan mampu memiliki daya pengaruh bagi orang lain dan bagi kehidupan. Andaipun ia melakukan upaya untuk memberi pengaruh, ia akan lebih cepat terhalang lalu berhenti di tengah jalan. Jalan ini bukanlah jalan mudah yang berhampar bunga dan aroma kesturi. Melainkan jalan yang penuh keseriusan, kesungguhan, yang memerlukan para tokoh pahlawan yang istimewa kepahlawanannya, bukan hanya sosok lelaki biasa.

Pengejawantahan makna sebuah obsesi adalah mengecilkan apapun sebelum sampai pada ketinggian yang ingin dicapai. Jika konsep diri seseorang memandang dirinya itu mulia, terhormat dan mampu, maka ia akan mampu melampaui kemampuannya. Jiwanya seperti burung yang terbang tinggi di langit, semakin tinggi burung itu terbang, ia akan semakin jauh dari kerendahan dan rintangan di darat.

Sejarah kita memberi banyak contoh hidup tentang ini. Contoh-contoh tentang tingginya obsesi, cita-cita dan tujuan. Para shalihin terdahulu itu telah menciptakan pengaruh dan mengendalikan hidup ini, bahkan memimpinnya. Pengaruh yang mereka tinggalkan itu masih tetap ada hingga hari ini. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu bercerita, setelah Rasulullah saw wafat, ia mengatakan, “Mari kita belajar dari para sahabat Nabi saw yang banyak itu.” Meski ia adalah orang yang paling banyak menjadi rujukan para sahabat terkait peninggalan Rasulullah saw, namun ia kerap mendatangi orang yang didengarnya menyampaikan hadits agar ia mendengar langsung hadits itu dari Rasulullah saw. Katanya, “Aku akan mendatanginya untuk mendengarnya langsung berbicara. Aku akan hamparkan selendangku di depan pintu rumahnya, membiarkan wajahku diterpa angin tanpa selendang, sampai orang itu keluar kepadaku.”

Lihatlah Nuruddin Mahmud Zanky rahimahullah, yang membuat mimbar masjid Al-Aqsha. Ia membuat mimbar tersebut, dua puluh tahun sebelum masjid Al-Aqsha berhasil direbut kembali. Ia mempunyai obsesi besar untuk kembali merebut masjid Al-Aqsha dari cengkeraman pasukan salib. Meski ia menyaksikan keterpecahan kepemimpinan kaum Muslimin ketika itu sangat dahsyat, namun ia tetap merancang langkah pertama dari obsesinya untuk mengembalikan masjid Al-Aqsha. Perjuangannya itu kemudian disempurnakan oleh muridnya, Shalahuddin Al-Ayyubi rahimahullah. Sampai akhirnya, mimbar yang dibuatnya itu benar-benar diletakkan di masjid Al-Aqsha yang telah dibebaskan.

Seorang Imam Ali bin Aqil Al Baghdadi, mempunyai obsesi besar hingga ia menuliskan seribu buah kitab, di antaranya kitab Al Funun yang terdiri dari empat ratus jilid. Imam Adz Dzahabi, sang sejarawan Islam mengatakan, belum pernah ada di dunia seorang yang menulis sebanyak itu. Ibnu Aqil terus menerus menulis hingga usianya melewati delapan puluh tahun. Dalam usia seperti itu, ia mengatakan, “Aku takkan membiarkan diriku membuang satu jam saja dari usiaku, sampai lisanku sudah tidak dapat lagi mengkaji dan berdiskusi, sampai mataku tidak lagi dapat digunakan untuk membaca. Pikiranku tetap berjalan ketika aku terbaring istirahat.”

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa ia telah membaca lebih dari sepuluh ribu jilid buk. Tapi ia tetap mengatakan, “Usahaku masih rendah.” Abu Muslim Al Khaulani rahimahullah adalah orang yang sangat ketat terhadap dirinya sendiri, dan mempunyai obsesi yang melangit. Salah satu ungkapannya pada dirinya sendiri adalah, “Bangunlah, demi Allah kelak engkau akan digiring ke hadapan Allah, lalu penyesalan datang darimu, bukan dari diriku.” Amr bin Ash radhiyallahu anhu mengatakan, “Seseorang itu bagaimana ia memposisikan dirinya. Jika diposisikan tinggi, maka ia akan terangkat, dan bila diposisikan rendah, ia akan rendah dan hina.” Sampai-sampai dengan singkat, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menyimpulkan, “Istirahat bagi seorang pejuang itu termasuk ghaflah (kelalaian).”

Kita perlu mengetahui apa indikator paling penting, yang menunjukkan tingginya obsesi dan keinginan seseorang. Antara lain:

  1. Tingkat penyesalannya atas kerugian hilangnya waktu dan usianya yang terlewat tanpa manfaat.
  2. Banyak berpikir dan merenungkan kondisi ummat.
  3. Banyak memberi masukan, nasihat, solusi kepada orang-orang yang menginginkan perubahan dan perbaikan.
  4. Selalu mengutamakan yang lebih ideal.
  5. Banyak gusar karena merasa waktu semakin sempit dan ia tidak mampu melakukan target yang diinginkannya dalam satu hari. Kegusaran yang bukan keluhan, tapi kegusaran sejati dari kerja terus menerus hingga menyita waktu.
  6. Kekuatan tekadnya, konsistensi pandangannya, dan kemantapan sikapnya. Jika sudah menetapkan sesuatu tidak terburu menyudahi ketetapannya sampai ia bisa memetik buahnya. Sikap ragu dan berubah sikap termasuk karakter obsesi yang rendah.

Selain itu, ada 15 poin yang penting dilakukan untuk membangkitkan obsesi kita:

  1. Memohon pertolongan pada Allah dan tawakkal atas apapun yang terjadi. Banyaklah berdo’a dan meminta kepada Allah swt.
  2. Tumbuhkan perasaan bahwa apa yang dilakukan adalah demi memperoleh keridhaan dan pahala dari Allah swt semata.
  3. Lakukanlah evaluasi, kontrol terhadap aktivitas harian yang dilakukan dan rumuskanlah pekerjaan yang jelas dalam hari-harimu.
  4. Jauhi ragam masalah dan aktivitas yang remeh temeh dan tidak bernilai.
  5. Tetap pelihara apa yang telah ditetapkan sebagai prioritas untuk dilakukan.
  6. Jangan terlalu banyak berpikir atau melakukan hal-hal yang bersifat sekunder dan tidak primer.
  7. Berpikir dan merenung tentang kedudukan tertentu yang bisa menjadi tangga mencapai obsesi yang paling tinggi.
  8. Berbicara pada diri sendiri dan meyakinkannya dengan obsesi tinggi yang dimilikinya.
  9. Mujahadah dan serius mengendalikan jiwa dan tidak menyerah pada keinginannya begitu saja.
  10. Mau berhadapan dengan tantangan, tetap menengadahkan kepala ke langit.
  11. Membaca sejarah dan peri hidup orang-orang yang bersungguh-sungguh mencapai keinginannya.
  12. Optimis dan tidak mudah putus asa.
  13. Menghindari berlebih dalam hal mubah.
  14. Berhati-hati menunda pekerjaan.
  15. Menghindari respon yang terlalu cepat untuk memenuhi keperluan rumah atau memiliki fasilitas hiburan sebagaimana yang umum dimiliki.

2 komentar:

Khalav Ziyanulhaq mengatakan...

Assalaamu'alaykum kang!!


waw, 1st comment.
ini adalah awal dari hujan comment yg kan membanjiri etalase blog ini.


hehehe,
luarbiasa inspiratif kang.
alhamdulillah..

ELHOBELA mengatakan...

Assalamualaikum.
Salam kenal.... Ya... Kepedulian terhadap Palestina harus karena Allah, bukan hanya alasan humanisme semata.
Save Palestine..!!!
Allahu Akbar!


www.elhobela.blogspot.com