By: Rahmat Ubaidillah
“Orang Miskin Harus Punya Cita-Cita”
Meski terlahir sebagai orang miskin, saya tidak pernah putus asa untuk mengejar cita-cita setinggi langit. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya berkeinginan menjadi seorang dokter atau pilot. Alasannya sederhana, supaya dapat uang banyak untuk menyenangkan kedua orangtua. Ayah dan ibu adalah seorang petani, yang menjual hasil kebunnya di pasar. Kami tinggal di kaki Gunung Tapatoli, Desha Ishima Utara, Kecamatan Tibawa, Gorontalo. Sadar penghasilan orangtua dari pertanian tidak mencukupi keempat anaknya, sejak kelas satu SD saya sudah terbiasa berdagang. Masa kecil saya tidak seperti anak-anak lainnya yang akrab dengan mobil-mobilan dan robot-robotan. Sepulang sekolah, saya langsung ke pasar untuk berjualan kantong keresek dan garam. Terkadang, tidak sedikit orang yang membeli kantong karena merasa kasihan. Saya berusaha sekeras mungkin agar mendapatkan uang untuk biaya jajan sendiri. Saya tidak mau dikasihani orang. Saya yakin kepada Allah, kalau kita mau berikhtiar.
Sekolah bagi saya adalah segalanya. Meski harus naik gunung turun gunung setiap hari, hal itu saya jalani dengan senang hati. Sekolah kami sangat sederhana. Persis seperti yang ada di film laskar pelangi. Uang bayaran sekolah pun tidak terlalu dipaksa, semampunya saja. Sekolah tidak mengenakan sepatu, ah itu sudah biasa. Belajar berhitung dengan menggunakan media lidi, itu juga bukan hal aneh. Lebih dari itu, terkadang kami juga harus bubar jika hujan turun. Semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar. Nilai akademik saya selama di SD sangat bagus. Selepas SD saya ingin terus melanjutkan sekolah. Saya ingin sekali mengubah pola pikir masyarakat di kampung, yang merasa cukup jika sudah dapat membaca dan menulis. Setelah itu menjadi seorang petani untuk bisa menyambung hidup, tidak perlu menyambung sekolah lagi saya tidak mau seperti mereka. Akan saya kejar ilmu meski harus ke negeri Cina.
Menjelang lulus SD, ada seorang guru yang bertanya kepada saya, “Aish, kamu mau melanjutkan sekolah kemana?” seorang teman saya yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawab, “Nggak mungkin Aish bisa sekolah lagi, kerjaannya cuma berdagang di pasar.” Kata-kata tersebut memang terasa menyakitkan. Tetapi, saya ambil positifnya saja. Kata-kata itu menjadi cambuk sekaligus motivasi untuk melanjutkan sekolah. Pokoknya saya harus kuliah setinggi mungkin. Kan segalanya dimulai dari mimpi. Setelah lulus SD, saya mendaftar di SMPN 1 Tibawa. Nilai Ebtanas saya cukup untuk masuk ke sana. Sedihnya, saya mendaftar seorang diri. Minta diantar oleh orang tua teman-teman seangkatan. Terbayang bagaimana bahagianya mereka, diantar dan diperhatikan oleh mama papanya (terdiam haru). Ah... tetapi saya tidak mau menjadi anak cengeng. Sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri. Setelah pendaftaran selesai, saya baru memberitahukannya kepada ibu. “Karena itu pilihan kamu sendiri, maka kamu harus berusaha sendiri supaya bisa sekolah,” katanya. Jarak antara rumah ke sekolah, berkisar 2 km. Setiap hari saya berjalan kaki untuk menempuhnya. Alhamdulillah, saya mendapat keringanan di sekolah. Wah, betapa bahagianya saya, mendapatkan keringanan biaya sekolah. Buat saya uang pemberian seribu rupiah saja, sudah merupakan anugerah. Meski begitu, untuk biaya sehari-hari dan membeli buku harus saya tanggung sendiri. Nilai saya selama di SMP agak menurun. Saya harus berdagang lebih keras hingga lulus SMP. Oh... ya, sepulang berdagang saya ikutan mengaji di musholla dekat rumah kepada seorang ustadz. Darinyalah saya mendapatkan charger motivasi untuk tetap berikhtiar mencapai cita-cita.
Selepas lulus SMP, saya ingin melanjutkan ke SMA. Nilai Ebtanas saya cukup untuk masuk ke SMAN 1 Gorontalo. Sebuah SMA favorit di sana. Selama jeda waktu liburan sekolah, saya berdagang lebih keras untuk mengumpulkan uang guna membayar uang pendaftaran sekolah. Sebulan lamanya saya menabung, hingga terkumpul uang sebanyak Rp300.000,00. Uang itu saya gunakan untuk menebus ijazah SMP dan membayar uang pangkal. “Aish, kamu benar mau bersekolah di SMAN 1 Gorontalo? Kan di sana tempatnya anak-anak pintar dan kaya,” kata seorang teman mengejek. Mereka seakan tidak percaya, kalau saya ingin sekolah lagi. Buat saya, menjadi orang miskin bukan berarti harus minder. Karena Allah tidak menilai seorang hamba dari penampilannya, tetapi dari hati dan amalnya. Saya berusaha menjaga hati untuk bisa tetap menjadi hamba yang bertaqwa. Buat saya, itulah sebaik-baiknya bekal selama hidup di dunia.
Ternyata, uang hasil tabungan belum cukup untuk membayar uang pendaftaran sekolah. Masih kurang Rp70.000,00. Saya bingung. Hampir-hampir saya mengurungkan niat meneruskan sekolah. Rasa ragu menyeruak dalam benak. Apakah mungkin saya bisa membiayai sekolah kedepan? Saya tepis semua keraguan itu. Saya pergi menemui bapak yang sudah mulai sakit-sakitan. Saya utarakan masalah itu kepadanya. Mata bapak berbinar-binar melihat kesungguhan saya untuk sekolah. Sambil menahan rasa sakitnya, bapak pergi ke rumah tetangga untuk berhutang (terdiam). “Bapak bangga padamu Ish. Jangan kecewakan Bapak!” katanya semangat. Saya tidak mau mengecewakan bapak. Terbayang bagaimana pengorbanan mereka selama ini. Meski saya lebih banyak mencari uang sendiri, tetapi saya sangat berterima kasih pada mereka. Lantunan doa senantiasa terurai dalam setiap rintihan saat shalat.
Masuk SMA favorit, tidak membuart saya merasa kecil hati. Saya berusaha bergaul dengan semua kalangan. Saya sedikit menjauh kalau ada anak yang sikapnya sombong. Buatku kesombongan adalah penyakit parah yang sulit disembuhkan. Tetapi anehnya tidak sedikt orang yang bersikap seperti itu. Padahal ilmu manusia itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Mengapa kita harus sombong? Untuk lebih mengefektifkan waktu, saya kost di dekat sekolah. Saya sangat bersyukur, lagi-lagi mendapatkan beasiswa dari sekolah. Bantuan itu sangatlah berguna untuk bisa bertahan mewujudkan harapan. Meski mendapat bantuan dari sekolah, tetap saja saya harus berusaha lebih keras untuk mencari uang. Untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa kost. Belum lagi untuk membeli buku-buku yang harganya selangit. Selepas pulang sekolah, saya menjajakan kantong keresek dan garam di pasar. Terkadang saya harus lari menghindar, jika bertemu dengan teman-teman sekolah. Semakin beranjak dewasa, rasa malu itu semakin besar. Sepulang dari pasar, saya membantu mengajar mengaji anak-anak di mushalla dekat tempat kost. Dari situ juga saya mendapatkan uang tambahan untuk keperluan sehari-hari.
Berjuang untuk bisa kuliah di Jakarta
Saat masih kuliah di SMA, saya mendengar banyak teman-teman yang ingin sekali kuliah di Universitas Indonesia. Katanya, UI itu universitas favorit di Indonesia. Saya hanya bisa diam ketika teman-teman membicarakan tentang UI. “Mungkinkah saya kuliah di Jakarta?” pikir saya dalam hati. Saya penasaran, sampai akhirnya ingin sekali kuliah di sana mengambil jurusan manajemen. Mungkin karena saya terbiasa berdangan, sehingga cenderung ke jurusan itu. Semakin hari, tekad itu semakin kuat. Setelah lulus dari SMA, saya utarakan maksud itu kepada orang tua. Awalnya mereka kaget, dan tidak memberikan ijin. “Kamu mau tinggal sama siapa? Dapat duit darimana?” kata ibu dengan penuh tanda tanya. Saya berusaha meyakinkan mereka. Saya katakan,”Ibu dan Bapak cukup kasih doa restu saja. Bismillah, dengan doa restu itu saya bisa kuliah di Jakarta (terdiam).”
Akhirnya mereka mengizinkan saya ke Jakarta, dengan membekali uang sebanya tiga juta yang didapatkan dari berhutang kepada tetangga. Saat meninggalkan desa kelahiran, tak terasa airmata terurai deras. Saya akan berada sangat jauh dengan orangtua yang sangat saya cintai. Usia mereka pun, sudah tidak lagi muda. Saya bertekad tidak akan mengecewakan mereka. Ini adalah kepergian pertama saya yang terjauh dari desa dan orang tua. Kali pertama juga akan naik pesawat. Bagaimana ya rasanya? Setibanya di bandara, saya tidak langsung terbang ke Jakarta. Baru keesekan harinya ada pesawat yang ke Jakarta. Baru keesokan harinya ada pesawat yang ke Jakarta. Malam itu, tepat jam 00, saya mengerjakan shalat malam dan membaca beberapa lembar Al-Qur’an di musholla bandara. Subhanallah, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri saya dan banyak bertanya tentang rencana keberangkatan saya. Saya katakan, yang penting sampai dulu di Jakarta. Mau tidur di pinggir jalan juga tidak apa-apa. Ia memberikan saran, agar aku menemui seorang temannya di Depok. Ia adalah salah seorang pengurus di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri Depok. PKBM ini diperuntukkan bagi yang mereka yang kurang mampu melanjutkan sekolah umum. Biayanya gratis. Pendanaan lembaga ini didapatkan dari pemerintah, dan sebagiannya swadaya dari masyarakat umum. Saya pun mendapatkan nomor Hpnya. Keesokan harinya, tepat jam 13.00 saya berangkat ke Jakarta. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benakku. Cemas. Takut. Senang. Was-was. Seperti mimpi saat pesawat mulai tinggal landas. Ketika tiba di bandara Soekarno Hatta, saya hampir menangis tidak tahu mau naik apa dan pergi ke mana. Saya menghubungi nomor yang diberikan orang di bandara semalam. Ia menyarankan untuk naik taksi. Baru beberapa saat naik taksi, argonya sudah menunjukkan angka Rp100.000,00. Saya turun di tengah jalan dan meneruskan perjalanan dengan naik bus way. Di dalam bus way saya tertidur karena kelelahan. Saya bertambah bingung karena disuruh turun oleh pak supir. Katanya rutenya sudah berakhir. Saya lupa dimana saat itu. Yang pasti, pertolongan Allah lagi-lagi datang. Ada seorang wanita setengah baya yang membawakan tas saya, dan mengantarkan hingga Depok. Saya sangat berterima kasih kepadanya.
Sesampainya di Depok, saya diperbolehkan tinggal di Yayasan PKBM Bina Insan Mandiri. Saya tidur di dalam ruangan yang penuh sesak dengan buku-buku. Saya mencoba bertahan. Beberapa bulan tinggal di Depok, keuangan saya mulai menipis. Saya memutuskan untuk berdagang. Pagi hari, saya berjualan asongan menjajakan aqua dan kemudian jepitan. Pada sore harinya, membantu mengajar kelas PKBM SMP. Malam harinya, secara kontinyu, saya belajar untuk persiapan ikut SPMB. Sambil menjajakan dagangan, saya juga membawa buku sebagai bahan bacaan. Saya berdagang layaknya seorang mahasiswa yang kemana-mana membawa buku. Selama 7 bulan, saya belajar sambil berdagang. Terkadang, saya harus main kucing-kucingan dengan trantib yang sering mengadakan pembersihan pedagang asongan. Hidup diperantauan memerlukan mental baja. Selama belajar, saya banyak dibantu oleh para pengajar yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka benar-benar ikhlas membantu. Dari sinilah, saya merasakan bahwa hidup dengan saling berbagi adalah sebuah keindahan yang tiada tara. Karena kita hidup tidak sendirian, ada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
Pada saat ujian tiba, saya mencoba tenang. Saya teringat Ibu dan Bapak di kampung. Saya tidak mau kecewakan mereka. Hingga tibalah hari pengumuman. Pagi itu, saya pergi membeli koran. “Tumben Ish beli koran, biasanya pinjem doang,” kata seorang teman pedagang koran. Saat membaca pengumuman, saya terpaku tak percaya. Badan seperti melayang. Saya diterima di Fakultas Sastra Jawa Universitas Indonesia. Teman-teman yang berada di sekitar pedagang koran langsung memberikan selamat. “Gue bangga, ada temen kite yang bisa kuliah di UI,” teriak seorang teman pedagang asongan. Saya langsung sujud syukur, sebagai ungkapan terima kasih pada Allah. Meski sebenarnya pilihan pertama saya adalah di Fakultas Manajemen. Saya langsung memberitahukan kedua orang tua. Mereka sangat bersyukur. Kata Ibu, kalau saja ia tidak malu kepada tetangga, ia sudah melompat-lompat karena perasaan gembira yang teramat sangat. Kami saling terharu di ujung telepon. Sekarang saya akan lebih serus belajar. Untuk lebih fokus, saya berhenti mengasong. Alhamdulillah, ada donatur yang memberikan fasilitas asrama secara gratis, ditambah uang saku Rp400.000,00. Uang sebesar itu sebetulnya tidak cukup untuk kebutuhan makan dan buku kuliah. Karena itulah, ke depan saya berencana berjualan pulsa. Modalnya dari tabungan yang saya sisihkan sedikit demi sedikit. Kalau kita mau serius, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Dengan belajar dan berdoa, semuanya bisa kita capai. Makanya orang miskin seperti kita harus tetap mempunyai cita-cita, Jangan pernah merasa minder!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar