Rabu, 19 November 2008

Obsesi yang Tinggi

Oleh Dr. Ali Al Hammadi

Besarnya daya pengaruh dan kepiawaian mengendalikan hidup, bermula dari dalam diri sendiri. Orang yang tidak mempunyai tekad dan obsesi yang besar, takkan mampu memiliki daya pengaruh bagi orang lain dan bagi kehidupan. Andaipun ia melakukan upaya untuk memberi pengaruh, ia akan lebih cepat terhalang lalu berhenti di tengah jalan. Jalan ini bukanlah jalan mudah yang berhampar bunga dan aroma kesturi. Melainkan jalan yang penuh keseriusan, kesungguhan, yang memerlukan para tokoh pahlawan yang istimewa kepahlawanannya, bukan hanya sosok lelaki biasa.

Pengejawantahan makna sebuah obsesi adalah mengecilkan apapun sebelum sampai pada ketinggian yang ingin dicapai. Jika konsep diri seseorang memandang dirinya itu mulia, terhormat dan mampu, maka ia akan mampu melampaui kemampuannya. Jiwanya seperti burung yang terbang tinggi di langit, semakin tinggi burung itu terbang, ia akan semakin jauh dari kerendahan dan rintangan di darat.

Sejarah kita memberi banyak contoh hidup tentang ini. Contoh-contoh tentang tingginya obsesi, cita-cita dan tujuan. Para shalihin terdahulu itu telah menciptakan pengaruh dan mengendalikan hidup ini, bahkan memimpinnya. Pengaruh yang mereka tinggalkan itu masih tetap ada hingga hari ini. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu bercerita, setelah Rasulullah saw wafat, ia mengatakan, “Mari kita belajar dari para sahabat Nabi saw yang banyak itu.” Meski ia adalah orang yang paling banyak menjadi rujukan para sahabat terkait peninggalan Rasulullah saw, namun ia kerap mendatangi orang yang didengarnya menyampaikan hadits agar ia mendengar langsung hadits itu dari Rasulullah saw. Katanya, “Aku akan mendatanginya untuk mendengarnya langsung berbicara. Aku akan hamparkan selendangku di depan pintu rumahnya, membiarkan wajahku diterpa angin tanpa selendang, sampai orang itu keluar kepadaku.”

Lihatlah Nuruddin Mahmud Zanky rahimahullah, yang membuat mimbar masjid Al-Aqsha. Ia membuat mimbar tersebut, dua puluh tahun sebelum masjid Al-Aqsha berhasil direbut kembali. Ia mempunyai obsesi besar untuk kembali merebut masjid Al-Aqsha dari cengkeraman pasukan salib. Meski ia menyaksikan keterpecahan kepemimpinan kaum Muslimin ketika itu sangat dahsyat, namun ia tetap merancang langkah pertama dari obsesinya untuk mengembalikan masjid Al-Aqsha. Perjuangannya itu kemudian disempurnakan oleh muridnya, Shalahuddin Al-Ayyubi rahimahullah. Sampai akhirnya, mimbar yang dibuatnya itu benar-benar diletakkan di masjid Al-Aqsha yang telah dibebaskan.

Seorang Imam Ali bin Aqil Al Baghdadi, mempunyai obsesi besar hingga ia menuliskan seribu buah kitab, di antaranya kitab Al Funun yang terdiri dari empat ratus jilid. Imam Adz Dzahabi, sang sejarawan Islam mengatakan, belum pernah ada di dunia seorang yang menulis sebanyak itu. Ibnu Aqil terus menerus menulis hingga usianya melewati delapan puluh tahun. Dalam usia seperti itu, ia mengatakan, “Aku takkan membiarkan diriku membuang satu jam saja dari usiaku, sampai lisanku sudah tidak dapat lagi mengkaji dan berdiskusi, sampai mataku tidak lagi dapat digunakan untuk membaca. Pikiranku tetap berjalan ketika aku terbaring istirahat.”

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa ia telah membaca lebih dari sepuluh ribu jilid buk. Tapi ia tetap mengatakan, “Usahaku masih rendah.” Abu Muslim Al Khaulani rahimahullah adalah orang yang sangat ketat terhadap dirinya sendiri, dan mempunyai obsesi yang melangit. Salah satu ungkapannya pada dirinya sendiri adalah, “Bangunlah, demi Allah kelak engkau akan digiring ke hadapan Allah, lalu penyesalan datang darimu, bukan dari diriku.” Amr bin Ash radhiyallahu anhu mengatakan, “Seseorang itu bagaimana ia memposisikan dirinya. Jika diposisikan tinggi, maka ia akan terangkat, dan bila diposisikan rendah, ia akan rendah dan hina.” Sampai-sampai dengan singkat, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menyimpulkan, “Istirahat bagi seorang pejuang itu termasuk ghaflah (kelalaian).”

Kita perlu mengetahui apa indikator paling penting, yang menunjukkan tingginya obsesi dan keinginan seseorang. Antara lain:

  1. Tingkat penyesalannya atas kerugian hilangnya waktu dan usianya yang terlewat tanpa manfaat.
  2. Banyak berpikir dan merenungkan kondisi ummat.
  3. Banyak memberi masukan, nasihat, solusi kepada orang-orang yang menginginkan perubahan dan perbaikan.
  4. Selalu mengutamakan yang lebih ideal.
  5. Banyak gusar karena merasa waktu semakin sempit dan ia tidak mampu melakukan target yang diinginkannya dalam satu hari. Kegusaran yang bukan keluhan, tapi kegusaran sejati dari kerja terus menerus hingga menyita waktu.
  6. Kekuatan tekadnya, konsistensi pandangannya, dan kemantapan sikapnya. Jika sudah menetapkan sesuatu tidak terburu menyudahi ketetapannya sampai ia bisa memetik buahnya. Sikap ragu dan berubah sikap termasuk karakter obsesi yang rendah.

Selain itu, ada 15 poin yang penting dilakukan untuk membangkitkan obsesi kita:

  1. Memohon pertolongan pada Allah dan tawakkal atas apapun yang terjadi. Banyaklah berdo’a dan meminta kepada Allah swt.
  2. Tumbuhkan perasaan bahwa apa yang dilakukan adalah demi memperoleh keridhaan dan pahala dari Allah swt semata.
  3. Lakukanlah evaluasi, kontrol terhadap aktivitas harian yang dilakukan dan rumuskanlah pekerjaan yang jelas dalam hari-harimu.
  4. Jauhi ragam masalah dan aktivitas yang remeh temeh dan tidak bernilai.
  5. Tetap pelihara apa yang telah ditetapkan sebagai prioritas untuk dilakukan.
  6. Jangan terlalu banyak berpikir atau melakukan hal-hal yang bersifat sekunder dan tidak primer.
  7. Berpikir dan merenung tentang kedudukan tertentu yang bisa menjadi tangga mencapai obsesi yang paling tinggi.
  8. Berbicara pada diri sendiri dan meyakinkannya dengan obsesi tinggi yang dimilikinya.
  9. Mujahadah dan serius mengendalikan jiwa dan tidak menyerah pada keinginannya begitu saja.
  10. Mau berhadapan dengan tantangan, tetap menengadahkan kepala ke langit.
  11. Membaca sejarah dan peri hidup orang-orang yang bersungguh-sungguh mencapai keinginannya.
  12. Optimis dan tidak mudah putus asa.
  13. Menghindari berlebih dalam hal mubah.
  14. Berhati-hati menunda pekerjaan.
  15. Menghindari respon yang terlalu cepat untuk memenuhi keperluan rumah atau memiliki fasilitas hiburan sebagaimana yang umum dimiliki.

Kisah Aish Alim (Pedangan Asongan yang Berhasil Masuk Universitas Indonesia)

By: Rahmat Ubaidillah

“Orang Miskin Harus Punya Cita-Cita”

Meski terlahir sebagai orang miskin, saya tidak pernah putus asa untuk mengejar cita-cita setinggi langit. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya berkeinginan menjadi seorang dokter atau pilot. Alasannya sederhana, supaya dapat uang banyak untuk menyenangkan kedua orangtua. Ayah dan ibu adalah seorang petani, yang menjual hasil kebunnya di pasar. Kami tinggal di kaki Gunung Tapatoli, Desha Ishima Utara, Kecamatan Tibawa, Gorontalo. Sadar penghasilan orangtua dari pertanian tidak mencukupi keempat anaknya, sejak kelas satu SD saya sudah terbiasa berdagang. Masa kecil saya tidak seperti anak-anak lainnya yang akrab dengan mobil-mobilan dan robot-robotan. Sepulang sekolah, saya langsung ke pasar untuk berjualan kantong keresek dan garam. Terkadang, tidak sedikit orang yang membeli kantong karena merasa kasihan. Saya berusaha sekeras mungkin agar mendapatkan uang untuk biaya jajan sendiri. Saya tidak mau dikasihani orang. Saya yakin kepada Allah, kalau kita mau berikhtiar.

Sekolah bagi saya adalah segalanya. Meski harus naik gunung turun gunung setiap hari, hal itu saya jalani dengan senang hati. Sekolah kami sangat sederhana. Persis seperti yang ada di film laskar pelangi. Uang bayaran sekolah pun tidak terlalu dipaksa, semampunya saja. Sekolah tidak mengenakan sepatu, ah itu sudah biasa. Belajar berhitung dengan menggunakan media lidi, itu juga bukan hal aneh. Lebih dari itu, terkadang kami juga harus bubar jika hujan turun. Semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar. Nilai akademik saya selama di SD sangat bagus. Selepas SD saya ingin terus melanjutkan sekolah. Saya ingin sekali mengubah pola pikir masyarakat di kampung, yang merasa cukup jika sudah dapat membaca dan menulis. Setelah itu menjadi seorang petani untuk bisa menyambung hidup, tidak perlu menyambung sekolah lagi saya tidak mau seperti mereka. Akan saya kejar ilmu meski harus ke negeri Cina.

Menjelang lulus SD, ada seorang guru yang bertanya kepada saya, “Aish, kamu mau melanjutkan sekolah kemana?” seorang teman saya yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawab, “Nggak mungkin Aish bisa sekolah lagi, kerjaannya cuma berdagang di pasar.” Kata-kata tersebut memang terasa menyakitkan. Tetapi, saya ambil positifnya saja. Kata-kata itu menjadi cambuk sekaligus motivasi untuk melanjutkan sekolah. Pokoknya saya harus kuliah setinggi mungkin. Kan segalanya dimulai dari mimpi. Setelah lulus SD, saya mendaftar di SMPN 1 Tibawa. Nilai Ebtanas saya cukup untuk masuk ke sana. Sedihnya, saya mendaftar seorang diri. Minta diantar oleh orang tua teman-teman seangkatan. Terbayang bagaimana bahagianya mereka, diantar dan diperhatikan oleh mama papanya (terdiam haru). Ah... tetapi saya tidak mau menjadi anak cengeng. Sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri. Setelah pendaftaran selesai, saya baru memberitahukannya kepada ibu. “Karena itu pilihan kamu sendiri, maka kamu harus berusaha sendiri supaya bisa sekolah,” katanya. Jarak antara rumah ke sekolah, berkisar 2 km. Setiap hari saya berjalan kaki untuk menempuhnya. Alhamdulillah, saya mendapat keringanan di sekolah. Wah, betapa bahagianya saya, mendapatkan keringanan biaya sekolah. Buat saya uang pemberian seribu rupiah saja, sudah merupakan anugerah. Meski begitu, untuk biaya sehari-hari dan membeli buku harus saya tanggung sendiri. Nilai saya selama di SMP agak menurun. Saya harus berdagang lebih keras hingga lulus SMP. Oh... ya, sepulang berdagang saya ikutan mengaji di musholla dekat rumah kepada seorang ustadz. Darinyalah saya mendapatkan charger motivasi untuk tetap berikhtiar mencapai cita-cita.

Selepas lulus SMP, saya ingin melanjutkan ke SMA. Nilai Ebtanas saya cukup untuk masuk ke SMAN 1 Gorontalo. Sebuah SMA favorit di sana. Selama jeda waktu liburan sekolah, saya berdagang lebih keras untuk mengumpulkan uang guna membayar uang pendaftaran sekolah. Sebulan lamanya saya menabung, hingga terkumpul uang sebanyak Rp300.000,00. Uang itu saya gunakan untuk menebus ijazah SMP dan membayar uang pangkal. “Aish, kamu benar mau bersekolah di SMAN 1 Gorontalo? Kan di sana tempatnya anak-anak pintar dan kaya,” kata seorang teman mengejek. Mereka seakan tidak percaya, kalau saya ingin sekolah lagi. Buat saya, menjadi orang miskin bukan berarti harus minder. Karena Allah tidak menilai seorang hamba dari penampilannya, tetapi dari hati dan amalnya. Saya berusaha menjaga hati untuk bisa tetap menjadi hamba yang bertaqwa. Buat saya, itulah sebaik-baiknya bekal selama hidup di dunia.

Ternyata, uang hasil tabungan belum cukup untuk membayar uang pendaftaran sekolah. Masih kurang Rp70.000,00. Saya bingung. Hampir-hampir saya mengurungkan niat meneruskan sekolah. Rasa ragu menyeruak dalam benak. Apakah mungkin saya bisa membiayai sekolah kedepan? Saya tepis semua keraguan itu. Saya pergi menemui bapak yang sudah mulai sakit-sakitan. Saya utarakan masalah itu kepadanya. Mata bapak berbinar-binar melihat kesungguhan saya untuk sekolah. Sambil menahan rasa sakitnya, bapak pergi ke rumah tetangga untuk berhutang (terdiam). “Bapak bangga padamu Ish. Jangan kecewakan Bapak!” katanya semangat. Saya tidak mau mengecewakan bapak. Terbayang bagaimana pengorbanan mereka selama ini. Meski saya lebih banyak mencari uang sendiri, tetapi saya sangat berterima kasih pada mereka. Lantunan doa senantiasa terurai dalam setiap rintihan saat shalat.

Masuk SMA favorit, tidak membuart saya merasa kecil hati. Saya berusaha bergaul dengan semua kalangan. Saya sedikit menjauh kalau ada anak yang sikapnya sombong. Buatku kesombongan adalah penyakit parah yang sulit disembuhkan. Tetapi anehnya tidak sedikt orang yang bersikap seperti itu. Padahal ilmu manusia itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Mengapa kita harus sombong? Untuk lebih mengefektifkan waktu, saya kost di dekat sekolah. Saya sangat bersyukur, lagi-lagi mendapatkan beasiswa dari sekolah. Bantuan itu sangatlah berguna untuk bisa bertahan mewujudkan harapan. Meski mendapat bantuan dari sekolah, tetap saja saya harus berusaha lebih keras untuk mencari uang. Untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa kost. Belum lagi untuk membeli buku-buku yang harganya selangit. Selepas pulang sekolah, saya menjajakan kantong keresek dan garam di pasar. Terkadang saya harus lari menghindar, jika bertemu dengan teman-teman sekolah. Semakin beranjak dewasa, rasa malu itu semakin besar. Sepulang dari pasar, saya membantu mengajar mengaji anak-anak di mushalla dekat tempat kost. Dari situ juga saya mendapatkan uang tambahan untuk keperluan sehari-hari.

Berjuang untuk bisa kuliah di Jakarta

Saat masih kuliah di SMA, saya mendengar banyak teman-teman yang ingin sekali kuliah di Universitas Indonesia. Katanya, UI itu universitas favorit di Indonesia. Saya hanya bisa diam ketika teman-teman membicarakan tentang UI. “Mungkinkah saya kuliah di Jakarta?” pikir saya dalam hati. Saya penasaran, sampai akhirnya ingin sekali kuliah di sana mengambil jurusan manajemen. Mungkin karena saya terbiasa berdangan, sehingga cenderung ke jurusan itu. Semakin hari, tekad itu semakin kuat. Setelah lulus dari SMA, saya utarakan maksud itu kepada orang tua. Awalnya mereka kaget, dan tidak memberikan ijin. “Kamu mau tinggal sama siapa? Dapat duit darimana?” kata ibu dengan penuh tanda tanya. Saya berusaha meyakinkan mereka. Saya katakan,”Ibu dan Bapak cukup kasih doa restu saja. Bismillah, dengan doa restu itu saya bisa kuliah di Jakarta (terdiam).”

Akhirnya mereka mengizinkan saya ke Jakarta, dengan membekali uang sebanya tiga juta yang didapatkan dari berhutang kepada tetangga. Saat meninggalkan desa kelahiran, tak terasa airmata terurai deras. Saya akan berada sangat jauh dengan orangtua yang sangat saya cintai. Usia mereka pun, sudah tidak lagi muda. Saya bertekad tidak akan mengecewakan mereka. Ini adalah kepergian pertama saya yang terjauh dari desa dan orang tua. Kali pertama juga akan naik pesawat. Bagaimana ya rasanya? Setibanya di bandara, saya tidak langsung terbang ke Jakarta. Baru keesekan harinya ada pesawat yang ke Jakarta. Baru keesokan harinya ada pesawat yang ke Jakarta. Malam itu, tepat jam 00, saya mengerjakan shalat malam dan membaca beberapa lembar Al-Qur’an di musholla bandara. Subhanallah, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri saya dan banyak bertanya tentang rencana keberangkatan saya. Saya katakan, yang penting sampai dulu di Jakarta. Mau tidur di pinggir jalan juga tidak apa-apa. Ia memberikan saran, agar aku menemui seorang temannya di Depok. Ia adalah salah seorang pengurus di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri Depok. PKBM ini diperuntukkan bagi yang mereka yang kurang mampu melanjutkan sekolah umum. Biayanya gratis. Pendanaan lembaga ini didapatkan dari pemerintah, dan sebagiannya swadaya dari masyarakat umum. Saya pun mendapatkan nomor Hpnya. Keesokan harinya, tepat jam 13.00 saya berangkat ke Jakarta. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benakku. Cemas. Takut. Senang. Was-was. Seperti mimpi saat pesawat mulai tinggal landas. Ketika tiba di bandara Soekarno Hatta, saya hampir menangis tidak tahu mau naik apa dan pergi ke mana. Saya menghubungi nomor yang diberikan orang di bandara semalam. Ia menyarankan untuk naik taksi. Baru beberapa saat naik taksi, argonya sudah menunjukkan angka Rp100.000,00. Saya turun di tengah jalan dan meneruskan perjalanan dengan naik bus way. Di dalam bus way saya tertidur karena kelelahan. Saya bertambah bingung karena disuruh turun oleh pak supir. Katanya rutenya sudah berakhir. Saya lupa dimana saat itu. Yang pasti, pertolongan Allah lagi-lagi datang. Ada seorang wanita setengah baya yang membawakan tas saya, dan mengantarkan hingga Depok. Saya sangat berterima kasih kepadanya.

Sesampainya di Depok, saya diperbolehkan tinggal di Yayasan PKBM Bina Insan Mandiri. Saya tidur di dalam ruangan yang penuh sesak dengan buku-buku. Saya mencoba bertahan. Beberapa bulan tinggal di Depok, keuangan saya mulai menipis. Saya memutuskan untuk berdagang. Pagi hari, saya berjualan asongan menjajakan aqua dan kemudian jepitan. Pada sore harinya, membantu mengajar kelas PKBM SMP. Malam harinya, secara kontinyu, saya belajar untuk persiapan ikut SPMB. Sambil menjajakan dagangan, saya juga membawa buku sebagai bahan bacaan. Saya berdagang layaknya seorang mahasiswa yang kemana-mana membawa buku. Selama 7 bulan, saya belajar sambil berdagang. Terkadang, saya harus main kucing-kucingan dengan trantib yang sering mengadakan pembersihan pedagang asongan. Hidup diperantauan memerlukan mental baja. Selama belajar, saya banyak dibantu oleh para pengajar yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka benar-benar ikhlas membantu. Dari sinilah, saya merasakan bahwa hidup dengan saling berbagi adalah sebuah keindahan yang tiada tara. Karena kita hidup tidak sendirian, ada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.

Pada saat ujian tiba, saya mencoba tenang. Saya teringat Ibu dan Bapak di kampung. Saya tidak mau kecewakan mereka. Hingga tibalah hari pengumuman. Pagi itu, saya pergi membeli koran. “Tumben Ish beli koran, biasanya pinjem doang,” kata seorang teman pedagang koran. Saat membaca pengumuman, saya terpaku tak percaya. Badan seperti melayang. Saya diterima di Fakultas Sastra Jawa Universitas Indonesia. Teman-teman yang berada di sekitar pedagang koran langsung memberikan selamat. “Gue bangga, ada temen kite yang bisa kuliah di UI,” teriak seorang teman pedagang asongan. Saya langsung sujud syukur, sebagai ungkapan terima kasih pada Allah. Meski sebenarnya pilihan pertama saya adalah di Fakultas Manajemen. Saya langsung memberitahukan kedua orang tua. Mereka sangat bersyukur. Kata Ibu, kalau saja ia tidak malu kepada tetangga, ia sudah melompat-lompat karena perasaan gembira yang teramat sangat. Kami saling terharu di ujung telepon. Sekarang saya akan lebih serus belajar. Untuk lebih fokus, saya berhenti mengasong. Alhamdulillah, ada donatur yang memberikan fasilitas asrama secara gratis, ditambah uang saku Rp400.000,00. Uang sebesar itu sebetulnya tidak cukup untuk kebutuhan makan dan buku kuliah. Karena itulah, ke depan saya berencana berjualan pulsa. Modalnya dari tabungan yang saya sisihkan sedikit demi sedikit. Kalau kita mau serius, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Dengan belajar dan berdoa, semuanya bisa kita capai. Makanya orang miskin seperti kita harus tetap mempunyai cita-cita, Jangan pernah merasa minder!

Jihad fi Sabilillah

Kelas 3, secara umum berarti “belajar”. Berhenti dari segala aktivitas yang mengganggu waktu banyak dan segera belajar setengah hidup agar lulus UN dan SNMPTN.

Bagi kalangan umum (Islam KTP-an) mungkin terlihat wajar. Bagi kalangan aktivis, apakah itu wajar? Mari kita bersama-sama menjawabnya.

“Hari orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “ (Ash-Shaff: 10-11)

Ayat di atas sangat jelas kalau Allah menawarkan suatu perdagangan yang sampai kapan pun tidak akan pernah merugikan setiap makhluk-Nya. Dan ayat tersebut juga menjelaskan kalau bentuk jihad sangatlah beragam, di antaranya:

  1. Membela agama Allah (jihad, qital, dakwah, dll)
  2. Menuntut ilmu (mentoring, ceramah, belajar, dll)
  3. Mencari nafkah untuk keluarga
  4. Infaq, shadaqah, zakat

Tapi kan kalau kelas 3 harus bersiap-siap untuk UN dan SNMPTN! Jadi tidak mungkin bisa berda’wah atau berjihad seperti contoh di atas. Pokoknya belajar, belajar, belajar! Eits, tunggu dulu! Ada satu ayat lagi yang bisa membantah itu semua.

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(At-Taubah : 41)

Dan satu lagi,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscara Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(Muhammad: 7)

Dan hadits Rasulullah saw.

“Perumpamaan seseorang yang berjihad fi sabilillah adalah seperti seseorang yang berpuasa di siang hari ditambah mengerjakan qiyamullail di malam harinya disertai membaca sekaligus menadaburi ayat-ayat Allah tanpa henti sampai orang yang berjihad fi sabilillah itu kembali ke rumahnya.” (HR Bukhari-Muslim)

Kesimpulannya, buah dari jihad fi sabilillah sangatlah luar biasa. Dan bagi seorang aktivis, sebenarnya tidak ada kata “cuti” dari da’wah untuk belajar. Karena pada hakikatnya belajar itu sama dengan da’wah, yaitu sama-sama ibadah fardhu. Apa lagi kalau niatnya untuk jihad fi sabilillah, insya Allah, Allah akan memudahkan segalanya.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Al-Fahm

Seorang Muslim wajib menjadikan pemahaman sebagai landasan bagi amalnya. Sebab, dengan kepahaman itulah ia dapat menyempurnakan amalnya baik dari segi fikih (lahir) maupun hati.

Pemahaman dalam segi fikih mungkin bagi kita lebih mudah untuk memahaminya, karena berkaitan dengan masalah-masalah halal dan hukum atau status hukum suatu amal. Namun yang tersulit ialah bagaimana ilmu-ilmu yang kita miliki mampu membawa perubahan bagi diri kita. Ilmu yang kita miliki senantiasa menjadi penyadar dan peringatan dalam menghadapi berbagai ujian di dunia ini. Dan kesia-siaan ilmu itu bermula dari kelalaian kita untuk memahami dan mengamalkannya.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda tentang kelebihan orang yang memiliki ilmu.

“Seorang ahli fikih (berilmu) adalah lebih berat bagi syaitan untuk menggodanya daripada seribu ahli ibadah” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi)

Karena dengan ilmulah kita memiliki lebih banyak motivasi untuk berbuat daripada alasan untuk malas. Dengan demikian, landasan iman adalah ilmu.

Allah Ta’ala pun menceritakan karakteristik orang-orang yang memiliki ilmu dien.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir 35:28)

Dengan keluasan ilmunya, para ulama berhasil mencapai tingkat ma’rifat dimana kondisi keimanan mereka benar-benar tulus dan shiddiq serta terhindar dari tipuan dunia. Mutiara kata yang mereka ucapkan adalah buah dari pemahaman dan keimanan pada Allah Ta’ala, sehingga kata demi kata begitu terpatri pada siapapun yang mendengarkannya. Tidak ada ucapan yang mereka ucapkan selain selaras dengan amal yang mereka lakukan. Cucuran air mata mereka saat berdzikir merupakan ma’rifat, rasa cinta dan rindu pada Allah yang dilandasi oleh ilmu dan kepahaman. Kita sangat berharap semoga Allah mengizinkan kita berada pada tingkatan seperti ini.

Betapa banyak orang yang tahu tetapi mereka tidak memahaminya. Dan di antara orang yang paham sedikit sekali yang memiliki kemauan keras untuk mengamalkannya.

---

Hasan Al-Banna menguraikan dua puluh prinsip yang menjadi landasan dalam membangun Al-Fahm pada diri kita.

Wahai saudaraku yang tulus ... !

Yang saya maksud dengan fahm (pemaharnan) adalah bahwa engkau yakin bahwa fikrah kita adalah 'fikrah islamiyah yang bersih'. Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-'isyrin (dua puluh prinsip) yang sangat ringkas ini:

  1. Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.
  2. Al-Our'an yang mulia dan Sunah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Qur'an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri)dan ta'assuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami Sunah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.
  3. Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi, ia bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia bisa juga dianggap dalil dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teksnya.
  4. Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemunkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Qur'an atau ada riwayat dari Rasulullah saw.
  5. Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum, bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat-istiadat), maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.
  6. Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya, kecuali Al-Ma'shum (Rasulullah) saw. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan Kitab dan Sunah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka Kitabullah dan Sunnah RasulNya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang -oleh sebab sesuatu yang diperselisihkan dengannya- kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja kepada niat mereka, dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.
  7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu' (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan sikap mengikutnya ini- ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan Jika ia termasuk orang pandai, hingga mencapai derajat pentelaah.
  8. Khilaf dalam masalah fiqih furu' (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.
  9. Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya -sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu- adalah kegiatan yang dilarang secara syar'i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi, atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Qur'an yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat (padahal masing-masing dari mereka memiliki keutamaannya sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya) Dengan ta'wil (menafsiri baik perilaku para sahabat) kita terlepas dari persoalan.
  10. Ma'rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa ta'wil dan ta'thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. "Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."' (Ali lmran: 7)
  11. Setiap bid'ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid'ah lain yang lebih parah.
  12. Perbedaan pendapat dalam masalah bid'ah idhafiyah), bid'ah tarkiyah), dan iltizam) terhadap ibadah mutlaqah (yang tidak diterapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam. masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika. dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakekatnya dengan dalil dan bukti-bukti.
  13. Cinta kepada orang-orang yang shalih, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarrub kepada Allah swt. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya, "Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa." Karamah pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar'inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka -semoga Allah meridhai merekatidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.
  14. Ziarah kubur-kubur siapa pun- adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah saw. Akan tetapi, meminta pertolongan kepada penghuni kubur siapa pun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun dari kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan barakah), bersumpah dengan selain Allah dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid'ah besar yang wajib diperangi. juga janganlah mencari ta'wil (baca: pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.
  15. Doa, apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu'menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.
  16. Istilah ' (keliru) yang sudah mentradisi) tidak mengubah hakekat hukum syar'inya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu, dan kita berpedoman dengannya. Di samping itu, kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. lbrah itu ada pada esensi di balik suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.
  17. Aqidah adalah pondasi aktivitas; aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.
  18. Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat. "Hikmah adalah barang yang hilang milik orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya. "
  19. Pandangan syar'i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath'i (absolut) Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath'i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni, maka pandangan yang syar'i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.
  20. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim, yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur'an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.

Apabila seorang muslim memahami ajaran agamanya dengan batasan kaidah-kaidah di atas, berarti ia telah mengetahui makna syiarnya: 'Al-Qur'an adalah dustur kami dan Rasul adalah qudwah kami."